Model Pembelajaran Thinking Globally Acting Locally
Diposkan oleh Ayah Noura
Dalam dunia pendidikan kita saat ini,
dikenal adanya Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Pendidikan
berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan
keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya,
bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain- lain, yang
semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik.
Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan
global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi
mata pelajaran muatan lokal. Jadi dalam pendidikan ini, diharapkan anak dapat
berdaya saing global tanpa harus meninggalkan kebudayaan lokalnya. Sehingga
pemikiranya secara global namun tindakannya tetap lokal, seiring dengan adanya
pendidikan tersebut, dibutuhkan pula adanya suatu pendidikan yang memberdayakan
pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran yang diajarkan kepada peserta
didik di sekolah sehingga nantinya peserta didik akan mendapatkan pendidikan
yang baik dari segi pemikiran, sikap dan juga tindakannya.
Dari situlah, untuk saat ini dibutuhkan
suatu model pembelajaran yang di dalamnya mampu memuat
pendidikan budaya sekaligus pendidikan karakter tanpa harus kita tidak bisa
beradaptasi dengan lingkungan luar atau arus globalisasi. Salah satu inovasi
pendidikan dalam kegiatan pembelajaran di Tingkat SD khususnya, kami menawarkan
suatu model pembelajaran yang dapat menjadi perantara pendidikan berbasis
keunggulan lokal dan global, pendidikan berbasis budaya,yang di dalamnya
sekaligus berisi pendidikan karakter. Model pembelajaran ini kami namakan model
pembelajaran Thinking Globally Acting Locally atau dalam
bahasa Indonesianya adalah berpikir global bertindak lokal.
Bagaimana konsep model pembelajaran ini?
Secara umum Thinking Globally
Acting Locally adalah suatu pemikiran yang memandang secara luas
mengenai masalah-masalah mendunia, masalah yang sudah umum telah terjadi atau
sedang terjadi, masalah/ hal yang semua orang sudah ketahui (konteks berfikir
global) dan berusaha menanggapi permasalahan ataau informasi-informasi umum
tersebut dengan cara sendiri dan bertindak secara lokal. Lokal disini bisa
diartikan sebagai tindakan yang dimulai dari diri sedniri, tindakan berbasis
budaya di daerah sekitar, atau bisa juga tindakan lokal yang angaitkan diri
dengan isu global yang sedang terjadi.
Dalam konteks ini juga, lokal bukanlah lawan dari global, tapi
disatukan dan diperkaya dengan impuls-impuls dan pengaruh-pengaruh global. Hal
ini diperlukan dengan pertimbangan kita bisa mengikuti arus gobalisasi yang
secara langsung berdampak pada perubahan karakter dan budaya masyarakat
sekarang (Thinking Globally) maka dari itu arus-arus globalisasi yang
membawa dampak positif dikaji dan digabungkan dengan memasukan pendidikan
karakter, pendidikan berbasis budaya sekaligus ke dalam pembelajaran.
Karena di dalam model pembelajarn ini
cukup luas basis pendidikannya (isu global, pendidikan karakter, dan pendidikan
berbasis budaya sehingga pembelajaran secara langsung bisa dibentuk menjadi
pembelejaran tematik integratif, sesuai dengan kurikulum mendatang , kurikulum
2013.
Sasaran bagi penggunaan model ini adalah
pendidikan tingkat sekolah dasar (SD), di mana mereka perlu sekali fondasi
berupa penenanaman nilai karakter dan pendidikan budaya agar kelak mereka bisa
secara bijak bisa menghadapi arus global dengan diiringi mereka bisa sekaligus
mempunyai karakter yang baik dn melestarikan budaya daerah mereka sendiri.
Model ini memberikan konsep pada anak SD
nantinya bahwa hal yang bisa ditanamkan pada siswa SD Thinking Globally
Acting Locally adalah bukan bergaya dan bertingkah global, melainkan
berpikir global sehingga kita bisa menempatkan diri dan bangsa kita setara
dengan negara-negara di dunia dengan tetap memiliki karakter dan budaya bangsa
Indonesia.
Bagaimana model pembelajaran ini diterapkan
dalam RPP?
Selanjutnya, penerapan Model Pembelajaran Thinking
Globally Acting Locally dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dapat dilihat dari penjelasan RPP berikut ini :
A. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan ini, guru:
1) Menyiapkan kondisi ruangan kelas sesuai
dengan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.
2) Mengkondisikan siswa, sehingga siswa
siap baik secara psikis maupun fisik untuk mengikuti proses pembelajaran
3) Presensi
4) Apersepsi mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi
yang akan dipelajari.
5) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai;
B. Kegiatan Inti
Di dalam kegiatan inti, jenis kegiatan
dibagi menjadi 2 kategori, yaitu kegiatan Thinking Globally, dan Acting
Locally.
1). Thinking Globally
Dalam kegiatan Thinking Globally,
guru: Bertanya jawab (berinteraksi dengan siswa) untuk Menindak lanjuti
apersepsi, dan mengkaitkan apersepsi dengan isu-isu global, atau berita-berita
umum.
Menghadirkan media pembelajaran dan sumber
belajar lainnya, agar anak-anak secara aktif ikut dalam kegiatan pembelajaran. Memfasilitasi
terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru,
lingkungan, dan sumber belajar lainnya (anak-anak diharapkan kritis menanggapi
isu global yang disampaikan)
menekankan pada siswa bahwa isu-isu global yang sedang dibicarakan harus ditanggapi oleh siswa dan ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari pada saat itu. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
menekankan pada siswa bahwa isu-isu global yang sedang dibicarakan harus ditanggapi oleh siswa dan ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari pada saat itu. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
2). Acting Locally
Dalam kegiatan Acting Locally,
guru: Membiasakan peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar dengan
mengaitkan materi pembelajaran dengan budaya sekitar. Misal guru membuat teks lagu
yang berisi isi materi pembelajaran secara singkat dan nantinya, teks lagu
tersebut dinyankikan dengan nada lagu daerah, atau bisa dengan lagu-lagu lokal
lainnya.
Contoh lain guru membuat suatu permainan tradisional atau permainan yang
sering dilakukan peserta didik seperti ular-ularan, cing ciripit, ular tangga,
domikado, ular naga panjang, dakon, cublak-cublak suweng dll untuk menerangkan
materi pada peserta didik. Menghadirkan media pembelajaran dan sumber belajar
lainnya, agar anak-anak secara aktif ikut dalam kegiatan pembelajaran.
Memfasilitasi peserta didik melalui
pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik
secara lisan maupun tertulis, melalui kegiatan permainan tradisional yang sudah
dijelaskan pada poin 1, hanya jika di dalam poin 1 inti permainan untuk
menyampaikan materi, disini inti permainan untuk menjawab pertanyaan, diskusi,
dan memberikan tugas.
Memfasilitasi siswa untuk bertindak dari
diri sendiri, dan mengaitkan isu-isu global dengan aktivitas-aktivitas untuk
mengahadpinya melaui pemikiran sendiri, atau aktivitas yang sering ditemui di
lingkungan sekitar.
Memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, menganalisis, dan menyelesaikan masalah.
Memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, menganalisis, dan menyelesaikan masalah.
Memfasilitasi peserta didik berkompetisi
secara sehat untuk membentuk karakter dan meningkatkan prestasi belajar.
Memfasilitasi peserta didik membuat
laporan isu-isu pada kegiatan Thinking Globally yang dilakukan
balk lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
Memfasilitasi peserta didik untuk
menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
Memfasilitasi peserta didik melakukan
kegiatan yang sifatnya menampilkan produk yang mereka hasilkan;
Memfasilitasi peserta didik melakukan
kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan, dan rasa percaya diri peserta didik.
C. Kegiatan Penutup
1) Dalam kegiatan penutup, guru:
Memberikan umpan balik positif pada anak, dan memberikan penghargaan aas
keberhasilan peserta didik.
2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil thinking
globally dan acting locally peserta didik melalui berbagai
sumber,
3) Memfasilitasi peserta didik melakukan
refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
4) Memfasilitasi peserta didik untuk
memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
5) Bersama-sama dengan peserta didik
dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran:
6) Merencanakan kegiatan tindak lanjut
dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling
dan/atau memberikan tugas balk tugas individual maupun kelompok sesuai dengan
hasil belajar peserta didik;
7) Menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya.
*) Disusun dan dikirim oleh Riki,
Dwi H, Taofik, Nur Indah, Linda, Anindita, Eka Vebri, Nur Dani, dan Tri Untari.
Mahasiswa UNY angkatan tahun 2010 Kelas 6E


0 komentar: